Selasa, 23 Juli 2013

Pernikahan Vs Ilmu dan Persiapan



                                  Pernikahan Vs  Ilmu dan Persiapan
             (Ringkasan sederhana tentang Catatan Hati Seorang Istri Asma Nadia)
Awalnya aku berpikir menikah itu sesuatu yang menyenangkan yang di nanti banyak orang. Hidup enak, bahagia dengan pasangan yang di cinta berpahala pula..apalagi kalau habis menyimak kajian pra nikah ustadz Salim A Fillah.. jadi terpikirkan untuk menikah di usia muda terlebih jika mendapat bonus pendamping shalih. Suatu anugrah yang menjadi idaman wanita muslim. Membayangkan dua cinta yang di satukan atas ridho Allah, yang cintanya karena Allah, membina keluarga shalih, membangun keluarga samara  menyejukkan setiap mata memandang adalah idaman semua orang tetapi setelah membaca buku catatan hati seorang istri karangan Asma Nadia. Membuka mataku, menyadarkan bahwasannya tidak semua pernikahan itu berjalan mulus sesuai dengan bayanganku selama ini.
Meski aku sempat mengelak dengan mempertahankan idealisme, kalaulah si lelaki itu ngaji pasti enggak berulah aneh seperti itu.. Ternyata itu bukan jaminan. lelaki yang sholih, sekalipun sudah mengaji tidak bisa di jadikan patokan pernikahan itu akan mulus, tidak bisa di jadikan fondasi kuat bahwa lelaki itu tidak membuat keulahan, benar memang. Sebaik-baik manusia ya manusia. Tidak ada yang sempurna, tidak ada yang tak pernah membuat suatu kesalahan. Ini di buktikan dari kisah-kisah catatan hati seorang istri yang di tulis mbak Asma Nadia.. Salah satunya, menceritakan seorang lelaki sholih yang kuat agamanyaa..karena ke ikhlasannya mengharap ridho Allah, lelaki tersebut langsung menikah tanpa proses melihat wajah si perempuan. Alhasil ketika di pelaminan si lelaki tahu bahwa istrinya tidak cantik meski sudah di karuniai empat anak lelaki tersebut mengaku tidak bisa mencintai istrinya karena istrinya tidak cantik..wallahu’alam aku tidak mengerti bagaimana bisa tidak cinta namun bisa memiliki empat anak, andaikan saja si Istri tahu bahwa suaminya belum mencintainya,  tidak bisa membayangkan bagaimana perasaannya.
Satu lagi kisah yang sempat membuatku parno, salah seorang Istri menceritakan tentang suaminya yang sudah empat tahun selingkuh..sempat si Istri tidak percaya bagaimana mungkin suaminya selingkuh, dia dulu aktifis rohis di kampus, sholatnya tepat waktu rajin ke masjid, terkenal pendiam dan menjaga pergaulannya dengan wanita. Suatu hari tanpa sengaja Istri tersebut membuka pesan di handphone Suami yang isinya penuh dengan kata-kata sayang dan perhatian dari seorang wanita..setelah di introgasi. Suami tersebut menangis dan meminta maaf kepada Istri karena kekhilafannya sudah empat tahun menjalin hubungan dengan wanita lain. Sungguh, hebat sekali si Istri tersebut memaafkan kesalahan suami, meski luka itu masih membekas. Istri tersebut tetap mempertahankan rumah tangganya dengan alasan “aku masih mencintai suami dan anak-anakku, aku sudah senang dia mau mengakui kesalahannya”.

            Dari buku mbak Asma ini aku bisa menarik kesimpulan. Mengapa menikah itu suatu ibadah yang berpahala. Karena dalam sebuah pernikahan itu tidak selamanya berjalan mulus. Ada yang harus di korbankan, di perjuangkan, ada yang tersakiti, di sakiti, ada kesalahan, banyak khilafnya oleh karena itu Allah tidak mengharamkan perceraian tetapi hal yang di benci oleh Allah karena Allah tahu suatu saat akan ada hambaNya yang tidak bisa melanjutkan pernikahannya karena perceraianlah jalan yang terbaik, namun Allah menginginkan perceraian yang syar’i, dengan cara yang ma’ruf.
            Selagi pernikahan itu bisa di pertahankan alangkah baiknya jika di rawat sebaik mungkin..bagaikan api yang menyala jika tidak di pertahankan maka api itu akan memadam. Seperti halnya cinta, jika tidak di jaga, tidak di rawat maka cinta pun memudar..maka rawatlah cinta itu dengan baik..jaga keharmonisan keluarga..untuk para Istri, bersikaplah yang lembut, senantiasa bertutur halus dan sopan terhadap suami, jaga silaturahmi dengan keluarganya, jagalah penampilan meski di rumah pakailah baju yang pantas yang rapi dan wangi. Sungguh, di luar sana dia menahan godaan melihat wanita cantik, berbetis mulus, berkulit putih tersebar di jalanan atau di tempat kerjanya. Apakah engkau tega menyambutnya dengan daster compang-camping, rambut awut-awutan beraomakan bawang?            Untuk engkau wahai para suami, jagalah pula penampilanmu, meski lelah seharian bekerja..alangkah baiknya jika singgah sebentar di masjid hanya untuk membasuh muka, sikat gigi dan berwudlu..agar pulang ke rumah senantiasa terlihat fresh, beri waktu barang sepuluh menit untuk bercengkrama dengan keluarga, mengajak bermain anak-anak meski sebentar atau sekedar mengucapkan say hai namun bisa menjadi obat rindu bagi anak dan istri. Sunguh, di dalam rumah istri dan anakmu senantiasa menunggumu pulang. Seharian membereskan rumah, menyiapkan masakan istimewa, mendidik anak-anak di rumah. Apakah kau tega menyambutnya dengan wajah lusam, bibir menggerutu mengeluh kecapekan?         
            Untuk kaula muda, yang masih dalam proses penantian seperti saya(hehhe)..indahkan akhlakmu, perbaiki diri, sholihkan diri, pantaskan diri ini mendapat jodoh yang sholih..manfaatkan masa muda untuk menimba ilmu, perbanyaklah belajar..bisa dari buku-buku atau sering mengikuti kajian-kajian lepas di masjid. Jangan sungkan-sungkan untuk membaca buku yang membahas tentang pernikahan atau parenting (pendidikan anak), toh itu ilmu penting bagi kita..meski memang pernikahan di rasa masih jauh dari rencana, tidak ada salahnya mempersiapkan mulai dari sekarang..karena banyak yang di bahas dalam pernikahan, banyak yang harus kita siapkan sebelum waktu itu datang untuk kita. Bukan hanya cinta dan materi namun di butuhkan juga kesiapan mental, alangkah indahnya jika semua itu bisa kita jemput dengan ilmu.
Wallahul musta’an. Semoga bermanfaat
                                                                                                            Banjarbaru, 4 Juli 2013

           

1 komentar:

  1. Terima kasih untuk inspirasinya. Salam kenal -- http://rybbani.blogspot.com

    BalasHapus